Orangtua Menjadi “guru kedua” bagi anak sendiri
Dalam Pengajaran musik, orangtua siswa sering disebut sebagai “guru kedua” bagi putra-putrinya. Sebuah julukan yang rasanya tepat sekali, mengingat waktu paling banyak bagi anak-anak yang belajar musik, adalah di rumah. Berbeda dengan pendidikan umum, dalam belajar musik waktu tatap muka antara siswa dengan gurunya amatlah pendek, hanya berkisar 30 samapi 60 menit satu minggu sekali. Tentu saja, para guru musik pun menyadari keterbatasan itu dan karenanya selalu menganjurkan agar siswa-siswanya banayk belajar dan berlatih di rumah. Dan para guru pun selalu menganjurkan agar orangtua senantiasa mendampingi putera-puterinya di rumah. Bagaimana orangtua seharusnya berperan dalam pendidikan musik anak-anaknya?
Meskipun banayk diketahui bahwa peran orangtua dalam pendidikan musik anak-anaknya amatlah besar, namun agaknya hal itu belum merupakan kesadaran umum. Hanya beberapa orangtua yang secara intens dan terus menerus mengontrol dan mendampingi putera-puterinya selama belajar musik. Sebagaina besar lainnya, oleh karena kesibukan, ketidaktahuan, dan ketidakpedulian, menyerahkan urusan tersebut kepada pembantu maupun susternya.
Dan dalam beberapa kasus, anak-anak yang mendapat bimbingan dan dukungan orangtuanya, lebih cepat meraih kemajuan dalam belajarnya, daripada mereka yang mungkin tidak pernah mendapat perhatian orangtuanya.
Dr. William Leiland, pedagog dari Amerika mengatakan, kebanyakan orangtua tidak peduli dengan peran mereka dalam proses pendidikan musik anak-anaknya, oleh karena ketidakmengertian tentang apa yang seharusnya dilakukan. “Bagi orangtua yang memiliki pengetahuan musik, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi kebanyakan diantara para orangtua, tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan musik. Mereka mungkin senang musik, tetapi tidak memiliki kompetansi bermusik. Ini yang menyebabkan gap antara orangtua dengan anaknya, apalagi gurunya,” kata dia.
Leiland mengatakan, pada saat orang tua menginginkan putera-putera belajar musik, ada satu hal yang perlu diingat, bahwa mereka bukanlah seorang musisi ataupun p main musik. Atau dengan kata lain, mereka harus memulai dari sesauatu yang kosong. Daria nol. “Namun demikian, tidak berarti orangtua tidak bisa berperan dalam hal ini. Dengan komitmen yang kuat dari pihak orang tua, baik dalam hal soal waktu, tenaga, pengertian maupun materi, orangtua bisa membantu anak-anaknya dalam proses belajar musik,” kata Leiland.
Sekalipun demikian, lanjut dia, ada beberapa hal lainnya yang dapat dilakukan orangtua agar lebih optimal ketika harus berperan sebagai “guru kedua” di rumah. Apa saja kah itu?
Memilih Guru yang Tepat
Langkah pertama yang harus dilakukan orangtua adalah mencari sosok guru yang baik dan tepat bagi putera-puterinya. Ini sepertinya mudah, tetapi kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang beberapa guru yang anda inginkan sebelum Anda memutuskan menjalin kerjasama dengan seorang guru. Bila Anda sudah bertemu dengan seorang guru yang Anda anggap sesauai dengan kualifikasi Anda, galilah sebanyak mungkin informasi langsung dari dirinya. Namun hindari pertanyaan tentang hal-hal yang bersifat pribadi, karena guru adalah profesi profesional. Memiliki informasi yang lengkap sebelum menerima guru yang Anda maksud, jauh lebih baik daripada menyesal di kemudian hari.
Mentaati Peraturan
Setiap guru akan memiliki aturan belajar mengajar yang harus diikuti dan dipatuhi siswanya. Demikian juga oleh orang tua siswa. Sebagai orangtua siswa, anda wajib mengikutinya. Bila ada hal yang kurang jelas, Anda dapat menanyakannya. Ada baiknya Anda lakukan itu sebelum les dimulai.
Mencatat Jadwal
Putera-puteri anda membutuhkan kontak dan masukan dari sang guru secara teratur. Catat dan ingatlah selalu kapan waktu belajar buah hati Anda. Agar mudah mengingatnya, catat pada kalender kegiatan Anda setiap minggu. Biasanya pula putera-puteri anda turut mencatat dan mengingat jadwal kegiatan belajar musiknya.
Tepat Waktu
Kebanyakan guru sangat disiplin dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan. Mereka tidak akan mentolerir keterlambatan. Guru-guru yang profesional akan sangat ketat dalam hal ini, karena jadwal mereka sangat padat dan mereka telah mengalokasikan waktu sedemikian rupa. Bila anda datang terlambat, maka Anda pun akan mendapatkan konsekuensi dari apa yang telah ditentukan. Guru-guru yang mudah memberi toleransi waktunya biasanya justru menyulitkan diri mereka sendiri.
Bila Anda mempertimbangkan kemacetan, cuaca buruk, dan sebagainya sebagai faktor yang sangat mempengaruhi dalam perjalanan Anda, ada baiknya anda mempertimbangkannya sejak lebih awal. Bila waktu belajar musik begitu berharga, maka datanglah tepat pada waktnya. Dan ini adalah sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kecuali bila anda tidak keberatan dengan hilangnya waktu dan uang anda.
Beli Buku Segera
Ketika guru putera-puteri anda meminta anda membeli buku-buku atau bahan-bahan pelajaran yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, pastikan kapan buku tersebut dibutuhkan dan segeralah membelinya. Biasanya, guru memberi waktu dua menggu bagi anda untuk menyediakan buku-buku yang dibutuhkan tersebut.
Jangan Mengubah Buku
Bila guru memberikan daftar buku yang harus dibeli, usahakan memperolehnya segera. Biasanya masalah pengadaan ini menjadi problema tersendiri bagi orang tua karena kebanyakan buku mempunyai judul yang unik. Belum lagi jumlahnya di pasaran sangat banyak. Tetapi ada beberapa buku yang umum dipergunakan. Misalnya, Sonata Mozart atau latihan-latihan Hanon. Guru pada umumnya akan merekomendasikan penerbit-penerbit tertentu.
Bila ternyata anda kesulitan menemukan buku terbitan yang dimaksud sang guru, jangan sekali-sekali anda menggantinya dengan terbitan lainnya, meskipun buku yang dimaksud sama, tanpa persetujuan gurunya terlebih dahulu. Tetapi bila guru tidak terlalu peduli dari penerbit manapun, tidak masalah. Ada guru-guru tertentu yang begitu fanatik dengan menggunakan buku-buku dari peneribit tertentu pula, karena mereka memiliki pertimbangan tersendiri.
Misalnya, kualitas cetakan, korelasi antara materi, lebih mudah dipahami, sesuai dengan usia anak didinya dan sebagainya. Bila anda ragu, sebaiknya berkonsultasi dengan guru sebelum anda memutuskan membeli. Karena biasanya buku-buku musik yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau ditukar.
Menyediakan Instrumen
Kebutuhan pertama putera-puteri anda ketika mulai menginginkan belajar musik adalah tersedianya instrumen musik tersebut di rumah. Kadang-kadang hal ini menjadi problema tersendiri, terutama untuk instrumen musik yang nilainy sangat mahal, sementara orangtua sendiri masih perlu waktu menjajaki seberapa jauh minat anaknya mempelajari instrumen tersebut. Misalnya piano, apakah langsung membeli piano ataukah cukup dengan keyboard tersebut dahulu.
Bila masalah finansial menjadi kendala, pilihan menjadi semakin sulit. Tetapi di atas itu semua, memiliki piano tetap jauh lebih menguntungkan. Meskipun pada awalnya anak dapat saja diperkenalkan terlebih dahulu dengan keyboard, digital piano, atau synthesizer, pada akhirnya mereka harus memiliki piano akuistik jika ternyata hal itu diharuskan. jaid pertimbangkan dengan matang. Lalu putuskanlah segera.
Merawat Instrumen
Setiap instrumen musik membutuhkan perawatan rutin, namun tidak semua orang menyadari hal ini. Piano, misalnya, minimal dua kali dalam setahun piano anda harus di tune-up, meskipun piano tersebut dipergunakan atau tidak. Karena tuning yang teratur akan membuat suara piao tetap prima. Piano yang tidak pernah dirawat, bukan saja menimbulkan resiko kerusakan tetapi juga akan menyulitkan buah hati anda belajar. Perawatan piano tidak hanya terbatas pada tuning. Salah besar bila seseorang berpendapat piano tidak perlu diservis. Sebab beberapa bahan atau komponen dalam piano membutuhkan perawatan khusus dan berkala.
Berperan Aktif
Jika putera-puteri anda masih kanak-kanak atau pemula, mereka membutuhkan bantuan orang tuanya. Karena itu berperan akftiflah dalam setiap kegiatan mereka. Bantulah mereka dengan membuat jadwal latihan yang teratur dan konsisten. Bagilah kegiatan buah hati Anda sedemikian rupa sehingga mereka tetap memiliki waktu di luar rutinitasnya latihan.
Dalam hal ini, problem terberatnya adalah tidak mudah mengajak anak berlatih musik di rumah. Tetapi tidak ada pilihan lain. Komitmen yang kuat harus ada pada anak dan orangtuanya. Sebagian besar sekolah musik atau guru privat memiliki agenda kegiatan rutin seperti menyelenggarakan home konser, recital atau kompetisi antara siswa mereka. Ajaklah buah hati anda berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Aktivitas semacam itu sangat bermafaat untuk membagun ketertarikan anak pada musik.
Konsultasi
Jangan ragu bertanya kepada guru tentang apa saja yang dapat anda kerjakan untuk membantu kemajuan buah hati anda dalam belajar musik. Terutama dalam hal latihan di rumah atau segala sesuatu yang dapat membantu peranan sang guru. Bekerjasamalah dengan guru buah hati anda sebaik mungkin. Bisa jadi ada beberapa guru yang merasa tidak terlalu memerlukan peranan anda dalam membantu si kecil belajar musik. Tetapi dengan menunjukkan kesedian anda untuk membantunya setidaknya tetap lebih baik daripada anda adiam saja yang dapat memberikan kesan anda sebagai orang tua pasif.
Pembayaran
Lunasilah uang pembayaran iuran bulanan tepat pada waktunya dan utuh. Usahakanlah tidak terlambat, kurang jumlahnya atau bahkan kemungkinan menunda-nundanya. Yang sering terjadi kadang akal orangtua lupa. Sepertinya hanya masalah sederhana, tetapi bila anda sering terlambat membayar atau menundanya karena alasan lupa, misalahnya, tidak saja menunjukkan “siapa anda sebenarnya” tetapi juga sekaligus memperlihatkan sejauh mana komitmen, penghargaan dan keseriusan anda dalam mendukung proses belajar mengajar musik buah hati anda. (M.Arrifi)